Dalam Wirid Bulanan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) se-Kota Sawahlunto itu, Zulkifli tidak hanya menyampaikan ceramah, tetapi mengajak jamaah merenungkan kembali makna kehidupan yang sering kali habis diisi dengan mengejar urusan dunia.
SAWAHLUNTO,Targetonlinenews.com – Suasana Masjid Taqwa, Nagari Talawi, Kota Sawahlunto, Jumat (10/7/2026), berubah hening. Ratusan ibu-ibu majelis taklim yang memenuhi ruang masjid tampak larut dalam renungan. Beberapa di antaranya menundukkan kepala, mengusap air mata ketika mendengar tausiyah Dr. H. Zulkifli, S.Ag., M.M., Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Solok Nan Indah, tentang pentingnya mempersiapkan bekal sebelum kematian datang.
Dalam Wirid Bulanan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) se-Kota Sawahlunto itu, Zulkifli tidak hanya menyampaikan ceramah, tetapi mengajak jamaah merenungkan kembali makna kehidupan yang sering kali habis diisi dengan mengejar urusan dunia.
“Dunia ini hanyalah tempat singgah. Kita begitu sibuk menyiapkan masa depan, membangun rumah, mencari rezeki, mengejar jabatan, tetapi sering lupa bahwa ada perjalanan yang jauh lebih panjang setelah kematian,” ujarnya dengan suara tenang.
Kalimat-kalimat sederhana itu membuat suasana masjid semakin khusyuk. Wajah-wajah jamaah terlihat serius menyimak setiap pesan yang disampaikan.
Menurut Zulkifli, kematian merupakan kepastian yang tidak dapat ditunda ataupun dihindari. Saat ajal tiba, seluruh kebanggaan duniawi akan ditinggalkan.
“Harta, jabatan, dan popularitas tidak akan ikut menemani kita. Yang tersisa hanyalah amal saleh yang pernah kita kerjakan,” katanya.
Empat Bekal yang Tidak Akan Pernah Hilang
Di hadapan ratusan jamaah yang terdiri dari pengurus BKMT, tokoh agama, bundo kanduang, hingga masyarakat umum, Zulkifli mengajak umat Islam mempersiapkan empat bekal utama menuju kehidupan akhirat.
Bekal pertama adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar dibaca, tetapi dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bekal kedua ialah menjaga kualitas salat. Menurutnya, salat merupakan tiang agama sekaligus amalan pertama yang akan dihisab. Salat yang dilakukan dengan khusyuk dan tepat waktu akan membentuk pribadi yang disiplin serta berakhlak baik.
Selanjutnya, ia mengajak jamaah memperbanyak zikir. Di tengah kehidupan yang semakin penuh tekanan, zikir menjadi penyejuk hati sekaligus penguat hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.
Bekal terakhir adalah memperbanyak sedekah.
“Jangan pernah merasa rugi untuk berbagi. Harta yang kita infakkan di jalan Allah bukanlah harta yang hilang, tetapi tabungan yang akan kita temui kembali di akhirat,” tuturnya.
Pesan itu disambut anggukan para jamaah. Bagi banyak orang yang hadir, sedekah bukan sekadar memberi, melainkan wujud kepedulian kepada sesama sekaligus investasi untuk kehidupan yang kekal.
Mengingat Kematian agar Lebih Bijak Menjalani Hidup
Bagi Zulkifli, mengingat kematian bukan berarti hidup dalam ketakutan. Sebaliknya, kesadaran bahwa umur manusia terbatas akan membuat seseorang lebih berhati-hati dalam bersikap, lebih ikhlas beribadah, dan lebih ringan membantu sesama.
Karena itu, ia mengajak jamaah agar tidak hanya menjadi pribadi yang sukses di dunia, tetapi juga mempersiapkan diri menjadi hamba yang beruntung di akhirat.UN
“Orang yang paling cerdas bukanlah mereka yang memiliki harta paling banyak, tetapi mereka yang paling sering mengingat kematian dan paling baik mempersiapkan bekal untuk menghadapinya,” ungkapnya.
Perkuat Pembinaan Umat
Wirid bulanan BKMT tersebut juga menjadi ajang mempererat silaturahmi dan memperkuat pembinaan keagamaan di Kota Sawahlunto. Kegiatan dihadiri Kepala KUA Kecamatan Talawi, jajaran pengurus BKMT tingkat kota dan kecamatan, BAZNAS Kota Sawahlunto, alim ulama, tokoh masyarakat, bundo kanduang, serta jamaah majelis taklim dari berbagai wilayah.
Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan sinergi antara Kementerian Agama, kalangan akademisi, BKMT, BAZNAS, dan masyarakat semakin kuat dalam membangun kehidupan keagamaan yang harmonis, religius, dan berakhlak mulia.
Saat jamaah meninggalkan Masjid Taqwa siang itu, mereka membawa lebih dari sekadar materi ceramah. Mereka pulang dengan sebuah pengingat sederhana, bahwa bekal terbaik dalam perjalanan hidup bukanlah apa yang berhasil dikumpulkan di dunia, melainkan amal yang kelak menyelamatkan ketika semua yang bersifat duniawi telah ditinggalkan.(zul/ris1)

