Bagi banyak wisatawan, Tugu Nol Kilometer adalah destinasi yang wajib dikunjungi sebagai simbol kebanggaan telah menapakkan kaki di titik paling barat Indonesia. Namun, di balik monumen tersebut tersimpan kisah tentang sebuah kota yang pernah menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Asia.
Sabang Aceh, Targetonlinenews.com — Di ujung paling barat Nusantara, tepatnya di Tugu Nol Kilometer Indonesia di Desa Iboih Ujong Ba’u, Pulau Weh, Kota Sabang, berdiri sebuah monumen yang tidak hanya menjadi penanda geografis Indonesia, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah bangsa.
Bagi banyak wisatawan, Tugu Nol Kilometer adalah destinasi yang wajib dikunjungi sebagai simbol kebanggaan telah menapakkan kaki di titik paling barat Indonesia. Namun, di balik monumen tersebut tersimpan kisah tentang sebuah kota yang pernah menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Asia.
Dari pusat Kota Sabang, Tugu Nol Kilometer berjarak sekitar 29 kilometer. Perjalanan menuju lokasi menyuguhkan panorama perbukitan hijau yang berpadu dengan birunya Laut Andaman, menghadirkan pengalaman yang sulit dilupakan.
Sabang merupakan ibu kota Kota Sabang, sebuah wilayah administrasi di Provinsi Aceh yang mencakup Pulau Weh sebagai pulau terbesar beserta beberapa pulau kecil di sekitarnya seperti Pulau Rubiah, Pulau Klah, Pulau Seulako, dan Pulau Rondo. Letaknya yang berada di jalur pelayaran internasional, tepat di pintu masuk Selat Malaka, menjadikan kawasan ini memiliki posisi yang sangat strategis sejak berabad-abad lalu.
*Pernah Menjadi Pelabuhan Dunia*
Sejarah mencatat, Sabang mulai berkembang pesat pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 setelah pemerintah kolonial Belanda membangun pelabuhan modern pada sekitar 1883. Saat itu, kapal-kapal dagang dari Eropa, Timur Tengah hingga Asia Timur menjadikan Sabang sebagai tempat singgah untuk mengisi batu bara, logistik, dan perbekalan sebelum melanjutkan pelayaran.
Pada masa kejayaannya, Sabang dikenal sebagai salah satu pelabuhan bebas (free port) yang ramai dan bahkan kerap disebut mampu bersaing dengan Singapura sebagai pintu gerbang perdagangan internasional di kawasan Asia Tenggara.
Selain menjadi pusat perdagangan, Sabang juga memiliki peran penting sebagai pusat karantina jamaah haji. Para calon haji dari berbagai daerah di Indonesia menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci melalui jalur laut.
Jejak kejayaan masa lalu itu masih dapat ditemukan melalui bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial Belanda yang tersebar di berbagai sudut kota. Arsitektur klasik yang masih terawat menjadi pengingat bahwa Sabang pernah menjadi kota pelabuhan modern dengan aktivitas ekonomi yang sangat dinamis.
*Surga Wisata Bahari Indonesia*
Kini, Sabang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bahari terbaik di Indonesia.
Perairannya yang jernih menjadikan Pantai Iboih sebagai favorit wisatawan domestik maupun mancanegara. Dari pantai ini, wisatawan dapat menyeberang ke Pulau Rubiah, kawasan konservasi laut yang terkenal dengan keindahan terumbu karang dan beragam biota lautnya.
Aktivitas snorkeling dan diving menjadi daya tarik utama karena visibilitas bawah laut yang sangat baik serta kekayaan ekosistem laut yang masih terjaga.
Selain wisata bahari, Sabang juga menawarkan panorama alam berupa bukit, hutan tropis, hingga pantai-pantai eksotis yang memberikan ketenangan bagi siapa saja yang berkunjung.
Status Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) juga memberikan nilai strategis bagi pengembangan ekonomi, investasi, perdagangan, dan pariwisata di wilayah paling barat Indonesia ini.
*Simbol Persatuan Nusantara*
Tugu Nol Kilometer bukan sekadar objek wisata. Monumen ini menjadi simbol bahwa Indonesia membentang luas dari Sabang hingga Merauke, sebuah ungkapan yang telah melekat dalam identitas bangsa.
Di lokasi ini, wisatawan kerap mengabadikan momen dengan latar monumen yang menandai titik awal pengukuran wilayah Indonesia dari arah barat. Berdiri di sana menghadirkan rasa bangga sekaligus kesadaran akan besarnya negeri kepulauan yang dipersatukan oleh keberagaman.
Saat matahari mulai condong ke ufuk barat, langit Sabang berubah menjadi kanvas berwarna jingga keemasan. Ombak Laut Andaman berdebur pelan, angin membawa aroma asin laut, sementara siluet kapal-kapal yang melintas mengingatkan bahwa perairan ini sejak dahulu telah menjadi jalur penting dunia.
Sabang bukan hanya tentang sebuah titik di peta. Ia adalah kota yang menyimpan sejarah, menawarkan keindahan alam kelas dunia, sekaligus menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki kekayaan yang tak pernah habis untuk dijelajahi.
Jika suatu hari ada kesempatan, sempatkanlah menginjakkan kaki di Kota Sabang. Menyusuri jalan menuju Tugu Nol Kilometer, menikmati jernihnya laut Pulau Rubiah, dan merasakan keramahan masyarakatnya akan membuat siapa pun memahami mengapa kota kecil di Pulau Weh ini begitu istimewa. Sebab, di ujung barat Indonesia itulah, perjalanan mengenal negeri ini seolah benar-benar dimulai.(Ris1)
*Tulisan ini dibuat terinspirasi dari cerita Bpk. Eddy Samrah.L, Aspidum Kajati Aceh*

