Site icon TARGET Online News

Korban Dugaan Keracunan MBG di Karo Dilaporkan Masih Alami Gangguan Kesehatan, DPRD Sumut Minta Penanganan Tuntas

Keluhan yang dilaporkan para korban tersebut bervariasi, mulai dari gangguan saluran pencernaan, nyeri ulu hati, mimisan, nyeri dada, hingga kondisi yang disebut membutuhkan perawatan lanjutan.

 

KARO—Targetonlinenews.com: Hampir satu bulan setelah peristiwa dugaan keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, sejumlah pelajar dilaporkan masih mengalami gangguan kesehatan dan harus kembali menjalani perawatan medis.

Salah satu korban yang menjadi perhatian adalah Febiola Purba (16), siswi asal Berastagi. Berdasarkan informasi yang beredar, Febiola belum sepenuhnya pulih dan dilaporkan beberapa kali keluar-masuk fasilitas pelayanan kesehatan sejak insiden yang disebut terjadi pada 13 Agustus 2026.

Informasi tersebut menyebutkan Febiola mengalami kejang, tubuh lemas, serta gangguan ingatan. Bahkan, berdasarkan keterangan yang diklaim berasal dari pemantauan medis, ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan kesulitan mengenali sejumlah anggota keluarga.

Febiola juga dilaporkan telah menjalani penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan, mulai dari RS Kabanjahe, RS Amanda Karo, RS Efarina, RS Haji Medan, hingga RSUP Haji Adam Malik Medan.

Namun, penting dicatat bahwa sejumlah informasi mengenai diagnosis, persentase gangguan fungsi kognitif, serta dugaan komplikasi medis tersebut perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada pihak rumah sakit dan tenaga medis yang menangani pasien.

Sejumlah Pelajar Dilaporkan Kembali Dirawat

Pasca-insiden dugaan keracunan tersebut, dilaporkan pula sejumlah korban lain kembali menjalani perawatan akibat munculnya keluhan kesehatan lanjutan.

Berdasarkan informasi yang diterima, Nelpalina Br Tumanggor kembali dirawat di RS Efarina Etaham pada Selasa, 8 September 2026, sekitar pukul 20.40 WIB, setelah mengalami keluhan yang kembali muncul atau memburuk usai sebelumnya sempat dipulangkan.

Pada hari yang sama, Aurellyn Br Ginting dilaporkan kembali masuk RS Efarina sekitar pukul 19.00 WIB dengan keluhan panas pada bagian perut dan dada.

Sementara Kesya Keparina dilaporkan menjalani perawatan di RS Efarina pada 9 September 2026 sekitar pukul 20.15 WIB dengan keluhan mimisan dan sakit pada bagian ulu hati.

Korban lainnya, Junika Br Purba, juga dilaporkan kembali menjalani perawatan dengan keluhan nyeri dada dan mimisan.

Keluhan yang dilaporkan para korban tersebut bervariasi, mulai dari gangguan saluran pencernaan, nyeri ulu hati, mimisan, nyeri dada, hingga kondisi yang disebut membutuhkan perawatan lanjutan.

Informasi mengenai dugaan gangguan pada saraf, ginjal, maupun jantung pada sejumlah korban juga memerlukan penjelasan dan konfirmasi resmi dari dokter atau fasilitas kesehatan yang menangani para pasien.

DPRD Sumut Minta Pemerintah Pastikan Korban Pulih Total

Menanggapi laporan mengenai kondisi sejumlah korban yang belum pulih, Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara Sutarto meminta pemerintah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis hingga benar-benar sembuh.

Sutarto juga mendesak agar hasil pemeriksaan laboratorium terkait penyebab dugaan keracunan tersebut dibuka secara transparan kepada publik.

Menurutnya, keterbukaan mengenai hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium penting untuk mengetahui penyebab kejadian sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG.

“Pemerintah dan Badan Gizi Nasional harus mengambil langkah konkret, termasuk menjamin biaya pengobatan serta pendampingan bagi keluarga korban,” ujar Sutarto.

Sutarto yang juga Sekretaris DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara menilai keselamatan dan pemulihan kesehatan para pelajar harus menjadi prioritas utama setelah terjadinya insiden tersebut.

Desakan Evaluasi Program MBG

Kasus dugaan keracunan massal di Berastagi kembali menambah sorotan terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di berbagai daerah.

Persoalan yang menjadi perhatian bukan hanya penanganan saat kejadian berlangsung, tetapi juga pemantauan kondisi kesehatan korban setelah mereka keluar dari rumah sakit.

Munculnya laporan mengenai sejumlah pelajar yang kembali menjalani perawatan menunjukkan pentingnya pemantauan medis jangka lanjut, terutama bagi korban yang masih mengalami keluhan berulang.

Pemerintah dan penyelenggara program juga didorong memastikan seluruh biaya pengobatan korban ditanggung serta memberikan pendampingan kepada keluarga selama proses pemulihan.

Hingga kini, publik masih menunggu penjelasan resmi dan komprehensif mengenai penyebab insiden dugaan keracunan massal MBG di Kabupaten Karo, termasuk hasil pemeriksaan laboratorium, perkembangan kondisi para korban, serta langkah evaluasi yang dilakukan pemerintah dan Badan Gizi Nasional.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan program pemenuhan gizi tidak cukup hanya diukur dari jumlah makanan yang tersalurkan. Standar keamanan pangan, pengawasan rantai distribusi, transparansi investigasi, serta tanggung jawab terhadap korban harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan program. (Ris1)

Exit mobile version