Menurut Debbi, ide kelas menjahit berangkat dari realita di lapangan. Banyak warga yang memiliki mesin jahit di rumah namun tidak produktif karena keterbatasan skill.
SAWAHLUNTO-Targetonlinenews.com: Paradigma perpustakaan sebagai sekadar tempat meminjam dan membaca buku perlahan berubah di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Sawahlunto melalui Perpustakaan Umum Kota Sawahlunto mengimplementasikan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial dengan menggelar kelas keterampilan gratis untuk masyarakat.
Program tersebut meliputi KELAS BELAJAR MENJAHIT GRATIS, KELAS KREATIF MERAJUT yang terbuka untuk umum tanpa batasan usia.
Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Sawahlunto, Debbie Hallen, menegaskan bahwa perpustakaan saat ini harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat.
“Perpustakaan bukan cuma ruang baca. Perpustakaan adalah ruang belajar sepanjang hayat, ruang kreatif dan ruang berdaya. Kami ingin masyarakat datang bukan hanya untuk membaca, tapi untuk mendapatkan keterampilan baru yang bisa meningkatkan ekonomi keluarga,” ujar Debbi Helen di Sawahlunto, Jumat (11/9).
Dari Mesin Jahit Nganggur Jadi Penghasilan
Menurut Debbi, ide kelas menjahit berangkat dari realita di lapangan. Banyak warga yang memiliki mesin jahit di rumah namun tidak produktif karena keterbatasan skill.
Melalui program inklusi sosial ini, perpustakaan mengajak warga untuk mengoptimalkan potensi tersebut.
“Hi Sahabat Pustaka! Punya mesin jahit di rumah tapi nganggur aja? Pengen punya skill baru yang bisa jadi penghasilan tambahan? Jawabannya ada di perpustakaan,” kata Debbi.
Kelas menjahit ini dirancang untuk pemula, mulai dari pengenalan mesin, teknik dasar menjahit, hingga membuat produk sederhana yang memiliki nilai jual. Peserta tidak dipungut biaya sepeserpun.
Merajut Imajinasi Jadi Karya Ekonomi.
Selain menjahit, perpustakaan juga membuka Kelas Kreatif Merajut. Program ini menyasar anak muda, ibu rumah tangga, hingga lansia yang ingin mengisi waktu luang dengan kegiatan produktif.
“Yuk sahabat pustaka kita belajar kreatif merajut di Perpustakaan. Dengan merajut kamu bisa membuat tas, boneka, gantungan kunci ataupun berbagai pernak-pernik sesuai imajinasimu,” jelas Debbie.
Ia menambahkan, hasil rajutan tangan saat ini memiliki pasar yang sangat luas, baik secara offline maupun online melalui marketplace dan media sosial.
Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial
Program ini merupakan bagian dari Program Nasional Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial yang diinisiasi oleh Perpustakaan Nasional RI. Tujuannya adalah menjadikan perpustakaan sebagai pusat literasi yang inklusif, terbuka untuk semua kalangan tanpa diskriminasi usia, latar belakang pendidikan, maupun status sosial ekonomi.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Sawahlunto berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan edukatif, kreatif, dan vokasional lainnya.
“Yuk kunjungi perpustakaan, ikuti beragam kegiatan edukatifnya. Untuk Sawahlunto kreatif dan berdaya,” tutup Debbie Hallen.
Perpustakaan Umum Kota Sawahlunto yang berlokasi di kawasan pusat kota ini buka untuk umum. Masyarakat yang berminat dapat langsung datang ke Perpustakaan Umum Kota Sawahlunto atau memantau informasi jadwal kelas melalui media sosial resmi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Sawahlunto. (Ris1)
















Komentar