oleh

Sawahlunto Hadapi Era AI, Guru Madrasah Dituntut Adaptif Tanpa Abaikan Akhlak

Hal itu menjadi sorotan utama dalam Seminar NGOPI (Ngobrol Pendidikan Islam) bertema “Guru Efektif di Era Teknologi dan Artificial Intelligence” yang digelar di Aula Hotel Saka Ombilin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat

 

SAWAHLUNTO—Targetonlinenews.com: Di tengah arus deras perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), peran guru tidak tergantikan. Guru dituntut untuk terus beradaptasi dengan teknologi, namun tidak boleh mengesampingkan pendidikan akhlak dan penguatan spiritual peserta didik.

Hal itu menjadi sorotan utama dalam Seminar NGOPI (Ngobrol Pendidikan Islam) bertema “Guru Efektif di Era Teknologi dan Artificial Intelligence” yang digelar di Aula Hotel Saka Ombilin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Rabu (28/10).

Kegiatan yang diinisiasi sebagai ruang diskusi pendidikan Islam ini diikuti lebih dari 200 peserta yang berasal dari unsur madrasah dan Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kota Sawahlunto. Seminar menghadirkan sejumlah narasumber lintas sektoral dari unsur akademisi, legislatif, dan Kementerian Agama untuk membahas tantangan sekaligus peluang pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan Islam.

Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (AAKK) UIN Imam Bonjol Padang, Dr. H. Masmuni Mahatma, S.Fil.I., M.Ag., yang hadir mewakili Rektor UIN Imam Bonjol Padang, secara resmi membuka kegiatan.

Dalam sambutannya, Masmuni mengingatkan pentingnya menjaga kedudukan ilmu dan kemuliaan orang-orang berilmu di tengah disrupsi teknologi.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan.

“Teknologi boleh berkembang pesat, AI boleh semakin canggih, tetapi derajat orang berilmu tetap dimuliakan Allah. Inilah yang harus kita jaga, jangan sampai guru hanya melek teknologi tapi miskin nilai,” ujarnya.

Ia juga mengaitkan tema seminar dengan pesan optimisme dari Surah Ad-Duha ayat 4, “Wa lal-akhiratu khairul laka minal-ula” — dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan. Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat bagi dunia pendidikan untuk memandang masa depan dengan optimisme, dengan menyeimbangkan kemajuan teknologi dan nilai-nilai spiritual.

Teknologi Cepat, Keteladanan Tetap Kunci

Sementara itu, narasumber lainnya, anggota DPR RI Komisi VIII dari Daerah Pemilihan Sumatera Barat I, Dr. Hj. Lisda Hendrajoni, S.E., M.M.Tr., menyoroti secara tajam peran guru yang tidak bisa digantikan mesin.

Menurutnya, teknologi memang mampu bekerja dengan cepat, efisien, dan memberikan kemudahan dalam proses pembelajaran. Namun, fungsi keteladanan, sentuhan kemanusiaan, dan pendidikan akhlak tetap menjadi peran sentral yang tidak dimiliki oleh AI.

“AI bisa memberikan jawaban dalam hitungan detik, bisa membuat RPP, bisa membuat materi ajar. Tapi AI tidak bisa memberi teladan akhlak, tidak bisa mendoakan muridnya, tidak bisa menanamkan keikhlasan. Itu hanya bisa dilakukan oleh guru,” tegas Lisda di hadapan peserta.

Lisda juga mengingatkan agar guru madrasah tidak alergi terhadap teknologi. Justru, pemanfaatan AI dalam pembelajaran menjadi sebuah keharusan agar pendidik tidak tertinggal zaman.

“Guru harus beradaptasi. Jangan takut dengan AI, tapi kuasai dan arahkan penggunaannya secara tepat dan bijak untuk kepentingan pendidikan. Guru yang efektif di era ini adalah guru yang melek teknologi, tapi tetap berkarakter dan berakhlak,” tambahnya.

Seminar NGOPI ini diharapkan menjadi momentum bagi guru-guru madrasah dan penyuluh KUA di Sawahlunto untuk terus meningkatkan kompetensi digital, sekaligus memperkuat komitmen dalam mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, unggul dalam teknologi, namun tetap kokoh dalam iman dan akhlak. (*)

Narasi : Tim Redaksi
Editor : Riswan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *