Bagi seorang muslim, setiap rupiah yang berpindah tangan akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, Islam menghadirkan rambu yang terang bernama Fiqih Muamalah
Oleh: Rahmadona, S.Pd.I., M.H. –
Targetonlinenews.com: Di setiap pasar tradisional hingga lapak online, kita melihat denyut yang sama: orang berdagang untuk mencari untung. Namun dalam Islam, berdagang tidak pernah sesederhana urusan untung-rugi. Ia adalah ibadah. Ia adalah muamalah.
Bagi seorang muslim, setiap rupiah yang berpindah tangan akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, Islam menghadirkan rambu yang terang bernama Fiqih Muamalah.
Apa Itu Fiqih Muamalah?
Secara bahasa, muamalah berarti saling berbuat. Secara istilah, Fiqih Muamalah adalah aturan Islam yang mengatur hubungan antarmanusia dalam urusan kehidupan dunia — mulai dari jual beli, perdagangan, kerja sama usaha, utang-piutang, sewa-menyewa, hingga kegiatan ekonomi lainnya.
Jika fiqih ibadah mengatur hubungan kita dengan Allah, maka fiqih muamalah mengatur bagaimana kita menjaga hubungan dengan sesama manusia agar tetap adil, tidak saling menzalimi, dan mendatangkan maslahat. Tujuannya satu: harta berputar dengan halal, dan keberkahan turun di dalamnya.
Bukan Sekadar Laku, Tapi Laku yang Halal
Rasulullah SAW sendiri adalah seorang pedagang yang ulung. Gelar Al-Amin — yang terpercaya — beliau sandang jauh sebelum diangkat menjadi Nabi, karena kejujurannya dalam berdagang. Ini menjadi teladan utama.
Islam merumuskan beberapa prinsip emas dalam berdagang:
1. Jujur dalam Setiap Transaksi
Kejujuran adalah modal utama. Jangan menyembunyikan cacat, kekurangan, atau aib barang. Nabi SAW bersabda: “Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para Nabi, orang-orang jujur, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi). Jujur mungkin membuat untung terlihat lebih kecil hari ini, tapi ia mengundang pelanggan setia untuk selamanya.
2. Tidak Menipu dan Tidak Curang (Tadlis & Ghisysy)
Sampaikan harga, kualitas, ukuran, dan kondisi barang apa adanya. Mengurangi timbangan, mengoplos kualitas, atau mengedit foto produk agar terlihat lebih bagus dari aslinya adalah bentuk kecurangan yang diharamkan.
Allah SWT berfirman: “Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang).” (QS. Al-Muthaffifin: 1)
3. Menjual Barang yang Halal
Pastikan produk, bahan baku, proses pembuatan, hingga cara memperolehnya halal. Tidak hanya zatnya, tapi juga cara mendapatkannya. Keuntungan dari barang haram tidak akan pernah menjadi berkah.
4. Menjaga Timbangan dan Takaran
Prinsip keadilan dalam muamalah. Jangan mengurangi hak pembeli demi keuntungan pribadi. Di era digital, “timbangan” itu bisa berarti deskripsi produk, spesifikasi, dan janji pengiriman.
5. Menghindari Riba, Gharar, dan Maysir
Inilah tiga penyakit transaksi yang harus dijauhi. Riba (tambahan yang tidak sah/bunga), Gharar (ketidakjelasan yang merugikan, seperti menjual barang yang belum jelas wujudnya), dan Maysir (unsur judi atau spekulasi untung-untungan). Transaksi harus jelas, pasti, dan adil bagi kedua belah pihak.
Lalu, Bagaimana Agar Bisnis Kita Berkah?
Berkah bukan berarti selalu untung besar. Berkah adalah ketika keuntungan yang sedikit terasa cukup, menenangkan hati, dan mendekatkan kita kepada Allah.
Ada beberapa kunci untuk menjemputnya:
Luruskan niat karena Allah SWT. Niatkan berdagang untuk menafkahi keluarga yang halal, membantu orang lain mendapatkan kebutuhan, dan sebagai bentuk ibadah.
Tepati janji dan amanah. Jika sudah berjanji mengirim hari ini, kirim hari ini. Jika barang pre-order 3 hari, jelaskan 3 hari. Amanah adalah magnet rezeki.
Jangan mengambil keuntungan dengan cara zalim. Mengambil untung boleh, bahkan dianjurkan. Tapi jangan sampai mencekik pembeli yang sedang membutuhkan.
Bersyukur dan berbagi. Ketika Allah lapangkan rezeki, sisihkan untuk sedekah, infak, dan peduli sesama. Harta yang dibagi tidak akan berkurang, justru Allah ganti dengan keberkahan yang berlipat.
Pada akhirnya, kita perlu merenung: dagang bukan sekadar mencari untung, tetapi juga mencari rida Allah dan keberkahan.
Seorang pembeli mungkin lupa harga barang yang ia beli, tapi ia tidak akan pernah lupa bagaimana kejujuran penjualnya. Jadilah pedagang yang ketika orang bertransaksi dengan kita, ia merasakan ketenangan.
Jujur dalam berdagang, insyaAllah membawa ketenangan dan keberkahan dalam kehidupan dunia dan akhirat
Berdagang adalah ibadah ketika dilakukan dengan cara yang benar. 🌿
Islam mengajarkan bahwa keuntungan bukan satu-satunya tujuan dalam berbisnis. Ada nilai kejujuran, amanah, keadilan, dan keberkahan yang harus dijaga.
Jangan sampai keuntungan yang kita dapatkan justru menghilangkan keberkahan karena adanya penipuan, kecurangan, riba, gharar, atau transaksi yang tidak sesuai syariat.
Mari menjadi pelaku usaha yang jujur, amanah, halal, dan bertanggung jawab.
🤲 Semoga setiap rupiah yang kita peroleh menjadi rezeki yang halal, baik, dan penuh keberkahan. (***)
Penulis adalah : Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto
#FiqihMuamalah #JualBeliDalamIslam #BisnisSyariah #BerdagangJujur #RezekiHalal #BisnisBerkah #PenyuluhAgamaIslam #KUABarangin #Kemenag #KotaSawahlunto

