Dalam arahannya, Zulkifli menekankan bahwa guru PAI memegang peran strategis, bukan hanya sebagai pengajar materi keagamaan, tetapi juga sebagai pembentuk karakter generasi muda.
Sawahlunto, Targetonlinenews.com – Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Sawahlunto, Dr. H. Zulkifli, S.Ag., M.M., menginstruksikan para guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat SMP untuk memperkuat gerakan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an di lingkungan sekolah. Langkah tersebut diawali dengan pendataan menyeluruh terhadap kemampuan membaca Al-Qur’an seluruh peserta didik sebagai dasar penyusunan program pembinaan yang lebih terarah.
Arahan itu disampaikan Zulkifli saat membuka kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI SMP Kota Sawahlunto yang berlangsung di Aula Kantor Kementerian Agama Kota Sawahlunto, Selasa (28/7).
Kegiatan tersebut diikuti guru PAI SMP se-Kota Sawahlunto. Hadir pula Kepala SMP Negeri 1 Sawahlunto, Sudirman, S.Ag., M.Pd., serta Kepala SMP Negeri 2 Sawahlunto, Ria Indah Susanti, S.HI., M.Pd., yang juga merupakan guru Pendidikan Agama Islam.
Dalam arahannya, Zulkifli menekankan bahwa guru PAI memegang peran strategis, bukan hanya sebagai pengajar materi keagamaan, tetapi juga sebagai pembentuk karakter generasi muda.
Ia mengungkapkan, dalam praktiknya guru agama sering menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ketika seorang siswa meraih prestasi akademik, penghargaan umumnya lebih banyak diberikan kepada guru mata pelajaran umum. Sebaliknya, ketika terjadi persoalan akhlak maupun perilaku peserta didik, guru agama kerap menjadi pihak yang pertama kali disorot.
“Karena itu, guru PAI memiliki peran strategis dalam membentuk karakter sekaligus membekali peserta didik dengan kemampuan dasar keagamaan,” kata Zulkifli.
Menurutnya, salah satu kompetensi dasar yang harus dimiliki setiap pelajar Muslim, khususnya di jenjang SMP, adalah kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik. Untuk itu, ia meminta seluruh guru PAI melakukan pendataan secara objektif terhadap kemampuan membaca Al-Qur’an siswa.
Pendataan tersebut, kata dia, perlu mengelompokkan peserta didik berdasarkan tingkat kemampuannya, mulai dari yang belum mampu membaca sama sekali, masih terbata-bata, hingga yang sudah lancar.
“Jangan malu mendata kondisi sebenarnya. Ini bukan untuk mencari kekurangan, tetapi sebagai langkah menyelamatkan generasi kita dari buta aksara Al-Qur’an,” tegasnya.
Selain membaca Al-Qur’an, Zulkifli juga meminta guru memastikan seluruh peserta didik menguasai bacaan salat dengan benar. Ia menilai sekolah memang tidak dapat mengawasi pelaksanaan ibadah salat siswa ketika berada di rumah, namun sekolah memiliki tanggung jawab memberikan bekal dasar yang kuat.
Menurutnya, kemampuan membaca bacaan salat dan Al-Qur’an merupakan fondasi penting bagi pembentukan karakter religius sekaligus bekal peserta didik saat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
“Dengan bekal tersebut, ketika mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mereka tidak lagi memulai dari nol, tetapi tinggal memperkuat dan mengamalkan apa yang telah dipelajari,” ujarnya.
Melalui forum MGMP tersebut, Kemenag Kota Sawahlunto berharap terbangun sinergi yang lebih kuat di antara guru PAI dalam meningkatkan kualitas pembelajaran agama Islam di sekolah. Pendataan kemampuan membaca Al-Qur’an diharapkan menjadi langkah awal untuk menyusun strategi pembinaan yang tepat sasaran, sehingga semakin sedikit pelajar yang mengalami buta aksara Al-Qur’an dan semakin kuat karakter religius generasi muda di Kota Sawahlunto. (Ris1)










Komentar