Oleh: Riswan Idris
— Ada momen yang menarik dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (26/6). Di hadapan sekitar 2.600 rektor, guru besar, dekan, dan dosen dari seluruh Indonesia, Presiden Prabowo Subianto tidak hanya menyampaikan pidato. Ia memilih berdialog, bertanya, bahkan mencurahkan kegelisahannya tentang masa depan Indonesia.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda rutin pemerintah. Namun, bagi sejarah peradaban, seorang pemimpin yang memilih berdiskusi dengan para ilmuwan selalu memiliki makna yang lebih dalam.
Sejarah mencatat, bangsa-bangsa besar tidak lahir semata karena kekuatan militer atau kekayaan alam. Mereka tumbuh karena menghormati ilmu pengetahuan dan memberikan tempat terhormat bagi para cendekiawan.
Jejak itu pernah begitu kuat di kawasan Asia Tengah, khususnya wilayah yang kini menjadi Uzbekistan. Pada abad ke-8 hingga ke-15, kota-kota seperti Bukhara, Samarkand, dan Khiva menjelma menjadi pusat peradaban dunia Islam. Para penguasa ketika itu membangun observatorium, perpustakaan, dan madrasah yang menjadi magnet bagi ilmuwan dari berbagai penjuru dunia.
Dari tanah itu lahir nama-nama besar seperti Imam Al-Bukhari, penyusun kitab hadis paling otoritatif; Ibnu Sina (Avicenna), tokoh kedokteran yang karyanya menjadi rujukan universitas-universitas Eropa selama berabad-abad; Al-Biruni, ahli astronomi, matematika, dan geografi; hingga Ulugh Beg, penguasa sekaligus astronom yang membangun observatorium paling modern pada masanya.
Mereka dihormati bukan karena jabatan politik, melainkan karena keluasan ilmu. Penguasa saat itu memahami bahwa investasi terbesar bukanlah membangun tembok, melainkan membangun akal manusia.
Kalimat Presiden Prabowo bahwa “investasi terbaik sebuah bangsa adalah investasi pada ilmu pengetahuan dan sumber daya manusianya” seakan menggemakan kembali semangat peradaban tersebut.
Indonesia sesungguhnya memiliki modal besar. Dengan lebih dari 4.000 perguruan tinggi, ratusan ribu dosen, dan jutaan mahasiswa, negeri ini memiliki sumber daya intelektual yang luar biasa. Tantangannya bukan sekadar menghasilkan lulusan, tetapi menjadikan kampus sebagai pusat lahirnya solusi bagi persoalan bangsa.
Ketika Presiden mengumpulkan ribuan akademisi untuk berdiskusi mengenai arah pembangunan nasional, pesan yang muncul cukup jelas: negara membutuhkan gagasan, bukan hanya kritik; membutuhkan inovasi, bukan sekadar laporan penelitian yang tersimpan di rak perpustakaan.
Tentu, membangun budaya ilmu tidak cukup hanya melalui satu forum. Yang lebih penting adalah konsistensi menghadirkan kebijakan yang mendukung riset, memperkuat kolaborasi antara kampus dan industri, serta memberikan ruang bagi ilmuwan untuk berkontribusi dalam pengambilan keputusan publik.
Peradaban Islam di Samarkand dan Bukhara mengajarkan satu pelajaran penting. Kejayaan mereka tidak dibangun dalam semalam, tetapi melalui penghormatan yang panjang terhadap ilmu pengetahuan dan para pencarinya.
Indonesia mungkin belum sampai pada titik itu. Namun, ketika seorang presiden memilih duduk bersama para guru besar dan ilmuwan untuk membicarakan masa depan bangsa, setidaknya ada isyarat bahwa pembangunan tidak lagi hanya dipandang dari beton, jalan, atau gedung-gedung tinggi.
Karena pada akhirnya, peradaban besar selalu dimulai dari satu hal yang sama: menghormati ilmu, memuliakan ilmuwan, dan menjadikan pengetahuan sebagai kompas pembangunan bangsa, dan mengimplementasikan setiap inovasi kebaikan kedalam kebijakan negara.
Sawahlunto, 27 Juni 2026.

