Di balik setiap gerobak yang tampak sederhana itu, ada keluarga yang harus diberi makan. Ada anak-anak yang harus sekolah. Ada listrik yang harus dibayar. Ada cicilan Bank Mekaar yang setiap hari tetap menunggu tanpa kompromi.
Oleh: Riswan Idris
Sawahlunto, — Delapan bulan, Bukan delapan hari, bukan delapan pekan.
Sudah delapan bulan para pedagang kuliner dan pelaku UMKM yang sebelumnya berjualan di kawasan Lapangan Segitiga dan depan KONI Sawahlunto menjalani babak baru kehidupan mereka di kawasan Lapangan Silo. Sebuah relokasi yang di atas kertas disebut sebagai penataan kota. Namun di lapangan, bagi sebagian besar pedagang, relokasi itu justru berubah menjadi perjuangan untuk sekadar bertahan hidup.
Mereka tidak menolak perubahan. Mereka memahami bahwa kota harus ditata. Bahwa ruang publik harus menjadi lebih tertib, lebih indah, dan lebih nyaman. Tetapi penataan kota seharusnya tidak dilakukan dengan mengorbankan denyut ekonomi masyarakat kecil.
Sebab kota yang maju bukan hanya tentang trotoar yang rapi atau kawasan yang bersih. Kota yang benar-benar maju adalah kota yang memastikan rakyat kecil tetap bisa mencari nafkah dengan layak.
Yang menjadi persoalan bukanlah keputusan memindahkan pedagang.
Yang dipersoalkan adalah bagaimana relokasi itu dilakukan.
Hingga hari ini, kawasan baru di Lapangan Silo masih menyisakan begitu banyak persoalan mendasar. Ketika hujan turun, sebagian area berubah menjadi genangan lumpur. Bahkan pada beberapa titik bisa tergenang air sehingga pembeli enggan datang.
– Akses menuju lapak belum nyaman.
– Drainase belum berfungsi sebagaimana mestinya.
– Ketersediaan air bersih pun masih menjadi pekerjaan rumah.
Sarana pendukung yang semestinya menjadi syarat utama sebelum relokasi justru terasa datang belakangan—atau bahkan belum juga hadir.
Akibatnya mudah ditebak.
Pembeli berkurang drastis,Omzet turun.Sementara biaya hidup tidak pernah ikut turun.
Di balik setiap gerobak yang tampak sederhana itu, ada keluarga yang harus diberi makan. Ada anak-anak yang harus sekolah. Ada listrik yang harus dibayar. Ada cicilan Bank Mekaar yang setiap hari tetap menunggu tanpa kompromi.
Bank Mekar tidak mengenal istilah lokasi sepi.
Tagihan tetap datang.
Bunga tetap berjalan.
Ketika dagangan tidak laku, modal usaha perlahan habis hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Satu demi satu pedagang mulai menyerah.
– Ada yang menutup lapak.
– Ada yang menjual peralatan usahanya.
– Ada pula yang kembali mencari pekerjaan serabutan demi bertahan hidup.
Sementara dilokasi mereka yang lama (pasar remaja) tumbuh pedagang kuliner baru pemodal besar.
Ironisnya, selama delapan bulan terakhir, yang paling sering mereka dengar bukanlah solusi, melainkan janji.
– Janji akan perbaikan.
– Janji pembangunan.
-:Janji penataan.
Janji yang terus berulang, tetapi belum sepenuhnya berubah menjadi kenyataan.
Padahal pelaku UMKM tidak membutuhkan pidato yang panjang.
– Mereka membutuhkan pembeli.
– Mereka membutuhkan akses yang layak.
– Mereka membutuhkan fasilitas yang membuat orang mau datang.
Relokasi tanpa kesiapan infrastruktur ibarat memindahkan kapal ke pelabuhan yang belum selesai dibangun. Kapalnya memang sudah berpindah, tetapi aktivitasnya tidak pernah benar-benar berjalan.
Pemerintah tentu memiliki niat baik dalam menata wajah Kota Sawahlunto. Tidak ada yang membantah itu. Namun niat baik harus diwujudkan melalui kebijakan yang matang, berbasis data, dan berpihak kepada masyarakat.
Evaluasi bukan berarti mengakui kegagalan.
Justru evaluasi adalah bentuk keberanian pemerintah untuk memperbaiki apa yang belum berjalan sebagaimana mestinya.
Masih ada waktu untuk membenahi kawasan Lapangan Silo. Drainase harus segera diselesaikan. Area yang becek perlu diperkeras. Air bersih harus tersedia. Akses parkir dan penerangan mesti diperbaiki. Promosi kawasan kuliner harus digencarkan agar masyarakat kembali datang.
Bahkan bila diperlukan, pemerintah bersama para pedagang duduk satu meja untuk mengevaluasi seluruh kebijakan relokasi secara terbuka dan tentukan time linenya seperti apa.
Karena pembangunan kota tidak boleh hanya diukur dari bangunan yang berdiri.
Tetapi juga dari senyum masyarakat kecil yang tetap bisa membawa pulang rezeki setiap hari.
Pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan seberapa banyak pedagang dipindahkan.
Melainkan apakah setelah dipindahkan mereka menjadi lebih sejahtera atau justru semakin terpuruk.
Sebab rakyat kecil tidak meminta belas kasihan.
Mereka hanya berharap satu hal yang sederhana: kebijakan yang menghadirkan solusi, bukan sekadar halusinasi. (***)
Sawahlunto, 24 Juli 2026.
Penulis adalah seorang Jurnalis, Pemerhati Lingkungan dan Kebijakan Publik.

