oleh

Sijunjung Dorong Geopark Ranah Minang Silokek ke UNESCO, Pendidikan Dijadikan Senjata Strategis

Sijunjung,TargetOnlineNews.com — Kabupaten Sijunjung mulai memainkan kartu trufnya untuk menembus pengakuan dunia. Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Sabtu (23/8/25), digelar Seminar Nasional Penyusunan Kurikulum Muatan Lokal Berbasis Geopark. Acara ini tak hanya formalitas, melainkan sinyal bahwa pendidikan akan dijadikan garda depan dalam mendukung Geopark Ranah Minang Silokek menuju status UNESCO Global Geopark.

Acara yang menghadirkan kepala sekolah dan guru se-Kabupaten Sijunjung itu dibuka oleh Sekretaris Daerah sekaligus General Manager Geopark Ranah Minang Silokek, Dr. Zefnihan, Ap. M.Si. Ia menegaskan, tanpa fondasi pendidikan yang kuat, label geopark internasional hanya akan jadi papan nama kosong.

“Seminar ini bagian dari persiapan serius. Kita tidak hanya bicara pariwisata, tetapi juga transfer pengetahuan ke generasi muda. Kalau masyarakat tidak memahami makna geopark, status UNESCO tidak akan ada artinya,” tegas Zefnihan.

Tiga pembicara kelas internasional dihadirkan untuk menggarap isu serius ini:

Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana, M.Sc, Ph.D, Dekan Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran.

Dr. Eng. Iwan Setiawan, ST, MT, Kepala Pusat Riset dan Sumber Daya Geologi.

Prof. Dr. Norzaini Azman, pakar pendidikan dari Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM).

Diskusi dipandu oleh Hanang Samodra, Peneliti Ahli Utama PRSD BRIN, yang menekankan pentingnya riset dan inovasi dalam membumikan geopark ke dalam kurikulum.

Ide besar dari seminar ini sederhana tapi krusial: geopark tidak boleh berhenti pada promosi wisata. Ia harus diintegrasikan ke dalam pelajaran sekolah — agar anak-anak Sijunjung tumbuh dengan kesadaran menjaga warisan geologi, ekologi, dan budaya mereka sendiri.

Langkah ini bisa menjadi terobosan. Namun, publik bertanya-tanya: apakah kurikulum muatan lokal ini akan benar-benar diterapkan, atau hanya menjadi bahan seminar yang indah di atas kertas.

Sejarah pembangunan daerah kerap menunjukkan pola yang sama: seminar mewah, narasumber hebat, jargon internasional — tetapi minim eksekusi di lapangan. Banyak pihak menilai, jika pemerintah daerah tidak konsisten, Geopark Ranah Minang Silokek bisa berakhir hanya sebagai “proyek branding” tanpa dampak nyata bagi masyarakat.

Apalagi, untuk meraih status UNESCO Global Geopark, syaratnya berat: keterlibatan komunitas, keberlanjutan lingkungan, hingga program pendidikan berbasis riset. Tanpa semua itu, pengakuan global hanya akan jadi mimpi.

Dengan hadirnya para pakar nasional dan internasional, Sijunjung sebenarnya punya modal besar. Namun modal itu bisa hilang begitu saja jika tidak dibarengi tindakan nyata.

Seminar ini seharusnya menjadi titik balik: bukan hanya membicarakan geopark sebagai destinasi wisata, tetapi juga menjadikannya identitas pendidikan, riset, dan ekonomi masyarakat.

Kini, bola ada di tangan Pemkab Sijunjung. Publik menunggu — apakah Geopark Ranah Minang Silokek benar-benar akan menembus UNESCO, atau sekadar menambah daftar panjang seremoni tanpa realisasi. (Ris1)

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed