oleh

Festival Budaya Nagari Tigo Koto Silungkang: Wujud Pelestarian Tradisi Minangkabau Melalui “Barek Sapikua, Ringan Sajinjiang”

Tupai Janjang dikenal sebagai bentuk sastra lisan klasik Minangkabau yang menggabungkan unsur cerita rakyat, pantun, dan dialog jenaka yang disampaikan secara improvisatif oleh para penampilnya. Selain menghibur, pertunjukan ini sarat pesan moral dan filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau, menjadikannya salah satu karya budaya yang memiliki nilai edukatif tinggi.

 

Agam,TargetOnlineNews.com — Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, menggelar Festival Budaya bertema “Barek Sapikua, Ringan Sajinjiang”. Festival yang sarat nilai budaya ini dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat yang diwakili Kepala Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat, M. Devit, S.ST.P., Minggu (9/11) sebagai tanda dimulainya rangkaian kegiatan yang akan berlangsung selama tiga hari penuh.

Acara pembukaan berlangsung meriah dengan dihadiri unsur pemerintah, tokoh adat, perwakilan akademisi, dan masyarakat dari berbagai nagari di sekitar Palembayan. Kegiatan ini menjadi ajang memperkuat identitas dan warisan budaya Minangkabau, sekaligus wadah ekspresi kreatif masyarakat nagari dalam melestarikan seni tradisional yang mulai jarang tampil di ruang publik.

Berbagai kesenian tradisional ditampilkan, mulai dari tari-tarian daerah, tambua tansa, hingga pertunjukan Tupai Janjang — sebuah kesenian khas yang menjadi kebanggaan masyarakat Nagari Tigo Koto Silungkang. Keunikan Seni Tupai Janjang mendapat perhatian khusus, mengingat pada tahun 2023 kesenian ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Tupai Janjang dikenal sebagai bentuk sastra lisan klasik Minangkabau yang menggabungkan unsur cerita rakyat, pantun, dan dialog jenaka yang disampaikan secara improvisatif oleh para penampilnya. Selain menghibur, pertunjukan ini sarat pesan moral dan filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau, menjadikannya salah satu karya budaya yang memiliki nilai edukatif tinggi.

Kegiatan ini turut diapresiasi oleh kalangan akademisi, termasuk dari Universitas Tamansiswa (Unitas) Padang, yang melihat festival ini sebagai langkah nyata dalam pelestarian budaya lokal di tingkat nagari.

“Festival seperti ini adalah bentuk nyata dari pendidikan karakter dan pelestarian budaya anak nagari. Melalui kegiatan ini, generasi muda dapat mengenal, mencintai, dan melanjutkan tradisi luhur Minangkabau,” ujar Dr.Osro Nita perwakilan Unitas Padang

Selain pertunjukan seni, festival juga diramaikan dengan berbagai kegiatan kebudayaan lainnya seperti pameran kuliner tradisional, lomba sastra lisan, serta diskusi budaya yang melibatkan seniman, budayawan, dan tokoh adat.

Dengan semangat Barek Sapikua, Ringan Sajinjiang — yang berarti gotong royong dan saling membantu — Festival Budaya Nagari Tigo Koto Silungkang tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga momentum memperkuat jati diri dan nilai-nilai kebersamaan masyarakat Minangkabau di era modern.

Festival ini diharapkan mampu menjadi agenda budaya tahunan yang terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi nagari-nagari lain di Sumatera Barat untuk menjaga dan menghidupkan kembali warisan budaya yang menjadi kebanggaan bersama.(Ris1)

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed