“Tak banyak, hampir tak ada bankir yang mau berubah profesi jadi tukang sate ayam. Keberanian itu ada dalam diri Rio,” kata redaktur NZZ.
Zurich,Targetonlinenews.com — Di pusat kota Zurich, ibu kota keuangan Swiss, ada sesuatu yang tidak biasa di sudut-sudut jalanannya. Di antara gedung-gedung perbankan megah, para eksekutif berbaju formal, dan toko-toko jam tangan mewah yang harganya ratusan juta rupiah — ada asap yang mengepul dari bara arang. Aroma sate ayam memenuhi udara dingin Eropa.
Yang mendorong gerobak roda tiga itu adalah seorang pria berusia 34 tahun asal Padang Panjang, Sumatera Barat. Namanya Rio Vamory. Dan sebelum memilih kehidupan ini, ia adalah bankir di salah satu bank ternama di Zurich.
Neue Zürcher Zeitung — koran tertua dan paling prestisius di Swiss, bacaan wajib para elite keuangan dan politik Eropa selama berabad-abad — memberikan satu halaman penuh untuk memuat kisah hidup Rio. Bagi sebuah koran yang sejak lama menjadi rujukan kaum berdasi di benua biru, memberi satu halaman penuh untuk seorang pedagang sate adalah sebuah pengakuan yang tidak main-main.
“Tak banyak, hampir tak ada bankir yang mau berubah profesi jadi tukang sate ayam. Keberanian itu ada dalam diri Rio,” kata redaktur NZZ.
Tapi bagaimana seorang bankir di Zurich bisa berakhir dengan gerobak sate di tangan?
Rio lahir di Padang Panjang pada 1983 dari sebuah keluarga yang tidak sederhana perjalanannya. Ibunya, Rosmidar, pindah ke Swiss setelah menikah dengan warga Swiss keturunan Tibet. Rio kecil dititipkan di pesantren di Bogor. Bertahun-tahun kemudian, kerinduan sang ibu akhirnya tak terbendung dan Rio pun menyusul ke Swiss. Ia tiba di negara itu pada 2006.
Di Swiss, Rio mengenyam pendidikan tinggi dan masuk ke dunia perbankan — dunia yang oleh sebagian besar orang dianggap sebagai puncak dari sebuah karier yang sukses. Gajinya lebih dari cukup untuk hidup nyaman di Zurich. Secara materi, ia tidak kekurangan apapun.Tapi ada satu hal yang tidak ia temukan di balik meja kantornya.
“Saya tidak bahagia bekerja di bank,” kata Rio.
Kalimat itu sederhana. Tapi konsekuensinya tidak.
Rio tidak langsung banting setir secara impulsif. Keputusan itu dipikirkan selama bertahun-tahun. Saat masih kuliah, ia pernah menulis tesis tentang food truck. Jauh sebelum meninggalkan bank, ia sudah merencanakan segalanya — mempersiapkan modal, menghimpun crowdfunding, mempelajari regulasi berjualan di ruang publik Zurich, merancang menu, dan mencari cara terbaik menghadirkan rasa sate yang benar-benar khas Indonesia di kota yang tidak mengenal makanan itu.
“Kalau nekad ya tidak, saya sudah merencanakan sejak lama, prosesnya bertahun-tahun,” katanya.
Mulai Mei 2017, Rio resmi berjualan sate ayam di jalanan Zurich menggunakan gerobak roda tiga khas Indonesia. Bukan di restoran. Bukan di gedung ber-AC. Tapi di luar ruangan, persis seperti cara sate dijual di kampung halamannya. Kepulan asap dari bara arang, tusukan bambu, saus kacang dan kecap — semuanya dibawa dari Indonesia ke jantung Eropa.
Pelanggan pertamanya bukan orang Indonesia. Mereka adalah orang-orang berdasi — para bankir, pengacara, dan eksekutif perusahaan multinasional Zurich yang penasaran dengan aroma asing yang mengepul di jalanan kota mereka. Mereka berdiri di antrean makan siang, tidak peduli dengan kepulan asap yang menempel di jas mereka, menikmati tusukan demi tusukan sate ayam yang rasanya tidak ada bandingannya di restoran manapun di kota itu.
Kisah Rio menyebar. Menteri Pariwisata Indonesia saat itu memujinya secara terbuka. Media-media Indonesia meliputnya. Dan NZZ memberikan satu halaman penuh itu.
Di balik semua perhatian yang ia terima, Rio tidak lupa dari mana ia berasal. Setiap satu Frank Swiss dari setiap sate yang terjual, ia sisihkan untuk membantu pelestarian alam Sumatera. Setiap tusukan yang laku di Zurich, ada sebagian kecil yang mengalir kembali ke tanah yang pernah melahirkannya.
Ada satu hal yang menarik dari pilihan Rio untuk menjual sate — bukan hidangan Indonesia yang paling mudah dibawa ke Eropa, bukan nasi goreng yang bisa dimasak dalam panci tertutup di apartemen, bukan rendang yang bisa dihangatkan ulang. Sate membutuhkan bara arang, asap yang mengepul, dan tusukan yang dibakar satu per satu di depan pembeli. Tidak ada jalan singkat untuk membuatnya. Persis seperti keputusan yang mengantarkan Rio ke sini — tidak ada jalan singkat untuk sampai ke hidup yang terasa benar.
“Sudah lama kepikiran,” kata Rio. Dan ketika pikiran yang sudah lama itu akhirnya dieksekusi, Zurich mendapat sate. NZZ mendapat cerita halaman penuh. Dan Indonesia mendapat satu lagi bukti bahwa cita rasa dari kampung halaman bisa menembus batas apapun, bahkan dinginnya angin Eropa sekalipun. (Bayu)
















Komentar