oleh

Ketika Pitih Mengalahkan Adat

“Dahulu rabab nan batangkai, kini lagundi nan babungo. Dahulu adat nan bapakai, kini pitih nan paguno.”

 

Sawahlunto ~ Kalimat itu meluncur pelan dari Ketua LKAAM Kota Sawahlunto,Dahler Dt.Pangulu Sati,dalam sebuah tulisan pendeknya. Tidak keras, tidak marah. Tapi di dalamnya ada kegelisahan panjang tentang kampung halaman yang sedang berubah.

Pepatah itu terjemahannya sederhana dan menohok:

Dahulu rabab yang bertangkai, kini lagundi yang berbunga.
Dahulu adat yang dipakai, kini uang yang berguna.

Jika dulu alat musik rabab yang penuh nilai seni dan filosofi yang dijunjung, kini semak lagundi yang tak berguna pun dianggap berbunga. Jika dulu adat yang menjadi ukuran, kini uang yang menjadi ukuran segalanya.

Inilah pergeseran paling senyap namun paling berbahaya yang sedang terjadi di Ranah Minang.

Sawahlunto: Kota Warisan yang Diuji

Sawahlunto bukan kota biasa. Kota ini dibangun dari keringat, solidaritas, dan kekerabatan. Dari lubang tambang yang gelap, lahir nilai-nilai badunsanak, sehimpun, saciok bak ayam sadanciang bak basi. Orang Sawahlunto hidup karena saling jaga, bukan saling sikut.

Adat di Sawahlunto bukan sekadar seremonial baju penghulu dan tari piring untuk tamu. Adat adalah sistem pembangunan karakter. Ia mengajarkan:

1. Moral sebagai Kompas: Malu berbuat salah, bukan malu karena tidak berharta.
2. Etika sebagai Bahasa: Kato mandaki, kato manurun, kato malereng, kato mandata. Ada etika bicara pada yang lebih tua, sebaya, dan lebih muda.
3. Kekerabatan sebagai Jaring Pengaman: Kaum, suku, dan nagari menjadi tempat pulang, bukan sekadar identitas di KTP.

Pembangunan karakter berbasis Adat dan Budaya ini melahirkan manusia yang tahan banting tapi tahu malu.

Namun kini, perlahan kompas itu bergeser.
Ketika Materi Menjadi Panglima

Ketua LKAAM itu melanjutkan dengan kalimat yang lebih pedas: “Akibatnya orang yang bermoral dan beretika kalah oleh orang yang bapitih (berduit).”

Ini bukan keluhan kosong. Kita melihatnya setiap hari:

Di ruang musyawarah, suara ninik mamak yang alim, yang menjaga pusako dan anak kemenakan dengan ikhlas, sering kalah lantang oleh suara anak kemenakan yang pulang membawa mobil baru dan janji proyek. Kebenaran tidak lagi ditimbang dari raso jo pareso, tapi dari berapa tebal amplopnya.

Di gelanggang sosial, gelar adat Sutan, Bagindo, Puti yang dahulu harus ditebus dengan laku dan pengabdian bertahun-tahun, kini terasa bisa dipercepat. Asal ada pitih, semua bisa diatur. Gelar kehilangan sakralnya.

Di lingkungan keluarga, anak-anak lebih disuruh mengejar pitih daripada mengejar budi. Kita bangga jika anak jadi kaya raya di rantau, tapi lupa bertanya apakah ia masih tahu menyembah, tahu menghormati, tahu pulang.

Inilah yang dimaksud pergeseran dari character building yang berazaskan Moral kepada yang berazaskan Materi. Ukurannya bukan lagi “baik atau buruk”, tapi “punya atau tidak punya”.
Rabab yang Ditinggalkan
Mengapa rabab ditinggalkan? Karena memainkan rabab butuh waktu, butuh rasa, butuh belajar.

Rabab adalah proses. Adat adalah proses.

Lagundi yang babungo? Ia tumbuh liar, cepat, tanpa ditanam, tanpa dirawat. Persis seperti budaya instan yang datang dari luar: viral, kaya mendadak, hormat karena followers, bukan karena akhlak.

Kita sedang menukar yang berakar dengan yang musiman.

Jika ini dibiarkan, Sawahlunto hanya akan menjadi kota museum. Fisiknya warisan dunia UNESCO, tapi jiwanya kosong. Lubang tambang Mbah Soero masih ada, tapi nilai solidaritas orang rantai yang dulu membangunnya sudah hilang.
Jalan Pulang: Menghidupkan Kembali Adat Nan Bapakai
LKAAM Sawahlunto tidak sedang bernostalgia. LKAAM sedang mengajak kita kembali ke jalan pulang.

Pergeseran ini tidak bisa dilawan dengan menolak uang. Pitih tetap perlu. Tapi pitih harus kembali menjadi alat, bukan tujuan dan bukan hakim.

Ada tiga pekerjaan rumah yang dititipkan Ketua LKAAM secara tersirat:

1. Kembalikan Adat ke Fungsi Pendidikan, Bukan Seremonial.
Jangan hanya ajarkan anak menari dan berpantun saat lomba. Ajarkan mereka kenapa harus andah jo andak, kenapa harus takut pada kualat, kenapa harta pusaka tidak boleh dijual untuk gaya hidup. Masukkan kembali pelajaran adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah ke dalam didikan keluarga.

2. Beri Panggung untuk Orang Bermoral.
Ninik Mamak, Bundo Kanduang, Alim Ulama yang masih istiqamah menjaga etika harus kembali diberi panggung dan didengar. Jangan biarkan panggung nagari hanya diisi oleh mereka yang bapitih. LKAAM harus berani mengatakan: “Yang kami muliakan adalah yang berbudi, bukan yang berduit.”

3. Gunakan Pepatah Sebagai Filter Zaman.
Pepatah Minang itu bukan hiasan. Ia adalah sistem operasi. Sebelum menerima tawaran, proyek, atau gaya hidup baru, tanyakan: Apakah ini sesuai dengan adat nan bapakai? Apakah ini akan membuat lagundi terlihat lebih indah dari rabab?

Sawahlunto pernah menjadi cahaya karena ia mampu mengelola materi (batu bara) dengan moral dan kekerabatan yang kuat. Hari ini, tantangan itu kembali, hanya bentuknya berbeda. Bukan lagi batu bara, tapi gengsi, jabatan, dan konten.

Tugas kita adalah memastikan, di Sawahlunto, orang baik tidak kalah. Orang yang menjaga moral dan etika tetap menjadi pahlawan. Agar kelak anak cucu kita tidak hanya berkata “Dahulu Sawahlunto kota tambang”, tapi juga “Dahulu Sawahlunto kota yang adatnya masih dipakai.”

Karena jika pitih terus yang paguno, kita akan kehilangan lebih dari sekadar karakter. Kita akan kehilangan diri kita sendiri. (*)

Sawahlunto, 29 Oktober 2026
Riswan Idris.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed