Sawahlunto, TargetOnlineNews.com – Kota Sawahlunto akan menjadi pusat perhatian dunia pada 23–27 Agustus 2025 dengan digelarnya The 2nd Edition We Are Site Managers International Symposium (WASM) di Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto (OCMHS). Acara berskala internasional ini akan dihadiri 35 pembicara dari 14 negara yang akan membahas pengelolaan warisan dunia UNESCO.
We Are Site Managers International Symposium merupakan forum bagi para manajer situs warisan dunia yang menjadi garda terdepan pelaksanaan Konvensi UNESCO 1972. Mereka memiliki tanggung jawab melestarikan, melindungi, dan menjaga Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value/OUV) dari masing-masing situs warisan dunia.
Sejak pertama kali dirancang di Krakow pada 2017, WASM telah berlangsung di berbagai negara, termasuk Riyadh pada 2023 dan George Town, Penang, Malaysia pada 2024. Tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah dengan memilih Sawahlunto yang memiliki status Warisan Dunia UNESCO melalui situs tambang batubara Ombilin.
Simposium bertujuan mempromosikan OCMHS serta menghimpun berbagai masukan, saran, dan praktik terbaik dalam pengelolaan warisan dunia. Beberapa keluaran utama dari acara ini antara lain:
*Promosi OCMHS melalui pelaksanaan simposium*
– Menjadikan Warisan Dunia Indonesia sebagai media diplomasi budaya.
– Berbagi pengalaman pengelolaan warisan dunia.
– Deklarasi “WTBOS Document”.
– Publikasi internasional dengan nama We Are Site Managers.
– Memperkuat jejaring para site manager warisan dunia.
Ada sembilan topik utama yang akan menjadi bahasan dalam simposium, di antaranya:
1. Recap of We Are Site Managers 2024
2. Introduction of Sawahlunto Document and Action Plans
3. World Heritage Site Management in Indonesia: Potentials and Challenges
4. Industrial Heritage Management
5. World Heritage Community, and Ownership
6. Identity, Interpretation, and Presentation of World Heritage
7. Resources for Site Managers
8. Disaster Risk Management
*Deretan Pembicara Internasional*
Forum ini menghadirkan nama-nama besar dari berbagai lembaga dunia, antara lain:
Ang Ming Chee & Ting Siew Jing (George Town World Heritage Incorporated, Malaysia)
Einar Å. Sæmundsen (Nordic World Heritage Association, Islandia)
Chiara R (Great Spa Towns of Europe World Heritage Site, Skotlandia)
Kim Dowon (Ritsumeikan University, Jepang)
Kasina Ubol (The Siam Society, Thailand)
Johannes Widodo (UNS/ICOMOS, Singapura)
Moe Chiba & Rizky Fardhyan (UNESCO Jakarta)
Maya Rosa & Widjaya Martokusumo (ICOMOS Indonesia & ITB)
Manggar Sari Ayuati (Pengelola Prambanan)
Febrina Intan (PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko)
Khamisariadi (Bappeda Sijunjung)
Gusnelly (Andalas University, perwakilan Sawahlunto)
serta perwakilan dari Korea Selatan, Tiongkok, Arab Saudi, Belanda, Rusia, dan Australia.
*Agenda Kegiatan*
Rangkaian kegiatan berlangsung selama 23–28 Agustus 2025, dengan agenda penting sebagai berikut:
23 Agustus 2025: Kedatangan pembicara dan peserta, disambut jamuan makan malam di Istana Gubernur Sumbar.
24 Agustus 2025: Kunjungan ke situs warisan dunia Ombilin, kegiatan makan malam dan pembukaan resmi di Rumah Dinas Wali Kota Sawahlunto bersama Menteri Kebudayaan RI serta Gubernur Sumbar.
25–27 Agustus 2025: Simposium internasional dengan berbagai sesi diskusi, presentasi, serta deklarasi “WTBOS Document”.
27 Agustus 2025: Kegiatan penanaman pohon, kunjungan situs, perjalanan malam ke lokasi heritage.
28 Agustus 2025: Keberangkatan peserta, dengan kunjungan ke berbagai kota di Sumatera Barat, termasuk Padang, Pariaman, Solok, dan Sijunjung.
*Lokasi dan Venue*
Beberapa lokasi penting kegiatan antara lain:
Reception Dinner: Istana Gubernur, Padang.
Site Visit: Stasiun Kayu Tanam, Stasiun Padang Panjang, serta Perkampungan Tradisional Minangkabau Padang Ranah Tanah Bato (Sijunjung).
Pameran: Lapangan Segitiga Sawahlunto.
Welcome Dinner: Rumah Dinas Wali Kota Sawahlunto.
Simposium: Gedung/Aula Khas Ombilin Heritage Hotel.
Closing Dinner: Rumah Dinas Wali Kota Sawahlunto.
Penegasan Sawahlunto sebagai Kota Warisan Dunia
Dengan kehadiran para pakar, akademisi, dan pengelola warisan dunia dari berbagai negara, Sawahlunto tidak hanya mempertegas posisinya sebagai kota tambang bersejarah berstatus UNESCO, tetapi juga memperkuat perannya dalam jejaring internasional pengelolaan situs warisan budaya dunia.
Acara ini diharapkan menjadi momentum penting untuk menguatkan diplomasi budaya Indonesia di kancah global sekaligus membuka peluang kerjasama dalam bidang pariwisata, pelestarian, dan pengelolaan warisan dunia. (Ris1)
Komentar