oleh

SISSCa dan Ujian Ekonomi Songket: Festival Meriah, Bagaimana Nasib Perajin Setelah Panggung Dibongkar?

Lima desainer lokal—Mezaf Ethnic, Ellen Songket, Unici Songket, Filma x Olo, dan Dollas Songket—ikut membawa kain tradisional itu ke panggung fesyen. Dari tingkat provinsi, Fomalhaut Zamel turut memperkaya eksplorasi desain.

 

 

SAWAHLUNTO-Targetonlinenews.com: Lampu panggung menyala. Model berjalan mengenakan busana berbahan Songket Silungkang. Desainer memamerkan karya terbaiknya. Tepuk tangan terdengar dari penonton.

Namun, ketika panggung Sawahlunto International Songket Silungkang Carnaval (SISSCa) 2026 dibongkar, pertanyaan yang lebih penting justru dimulai: apa yang tersisa bagi perajin?

Pertanyaan itu mengemuka setelah Fashion Show Day SISSCa 2026 digelar di Sawahlunto, Jumat (4/9/26). Ketua Dekranasda Kota Sawahlunto Ny. Yori Gemitia Riyanda bersama Wakil Ketua Dekranasda Sumatera Barat Ny. Dianita Maulin Vasco membuka peragaan busana yang menampilkan karya desainer lokal dan Sumatera Barat berbasis Songket Silungkang.

Lima desainer lokal—Mezaf Ethnic, Ellen Songket, Unici Songket, Filma x Olo, dan Dollas Songket—ikut membawa kain tradisional itu ke panggung fesyen. Dari tingkat provinsi, Fomalhaut Zamel turut memperkaya eksplorasi desain.

SISSCa ingin menunjukkan bahwa songket tidak harus berhenti sebagai pakaian adat. Ia bisa menjelma menjadi busana modern, mengikuti perubahan tren, sekaligus menjangkau konsumen lintas usia.

Gagasan itu menjanjikan. Tetapi festival budaya tidak otomatis menjadi keberhasilan ekonomi.

Ukuran keberhasilannya justru berada di luar panggung: berapa banyak produk yang terjual, berapa banyak pesanan baru masuk, berapa besar pendapatan perajin meningkat, dan apakah pasar baru benar-benar terbentuk setelah festival berakhir?

Data-data semacam itu menjadi penting karena tujuan pengembangan Songket Silungkang tidak hanya menyangkut pelestarian warisan budaya. Ada kepentingan ekonomi masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada kerajinan tersebut.

Ketua Dekranasda Sawahlunto Ny. Yori Gemitia Riyanda mengatakan SISSCa terus ditingkatkan dari berbagai aspek.

“Pengembangan event diarahkan tidak hanya untuk promosi budaya, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi produk melalui inovasi dan perluasan pasar.” ujarnya.

Pernyataan itu sekaligus membawa konsekuensi: keberhasilan SISSCa seharusnya dapat diukur secara lebih konkret.

Jika festival menghabiskan sumber daya publik dan melibatkan banyak pihak, publik berhak mengetahui apakah efek ekonominya berhenti pada momentum acara atau berlanjut menjadi transaksi dan pasar yang berkelanjutan.

Sebab ada perbedaan antara songket yang terkenal dan perajin yang sejahtera.

Sebuah motif dapat viral di media sosial tanpa membuat produksi perajin meningkat. Sebuah koleksi dapat tampil di panggung bergengsi tanpa otomatis meningkatkan pendapatan penenun. Bahkan sebuah festival dapat mendatangkan banyak pengunjung tanpa menjamin uang yang berputar masuk ke kantong pelaku usaha lokal secara signifikan.

Di sinilah SISSCa menghadapi ujian sebenarnya.

Inovasi desain memang diperlukan. Tetapi inovasi harus berjalan bersama peningkatan kualitas produksi, penguatan merek, pemasaran digital, akses pembiayaan, distribusi, serta koneksi dengan pasar nasional dan internasional.

Perajin juga perlu dipastikan memperoleh posisi yang kuat dalam rantai nilai. Jangan sampai mereka hanya menjadi pemasok bahan baku murah, sementara nilai tambah terbesar justru tercipta di hilir.

Kehadiran lima desainer lokal dan satu desainer tingkat provinsi menjadi modal penting. Namun, panggung fesyen mestinya menjadi pintu masuk menuju transaksi, bukan titik akhir promosi.

Karena itu, setelah SISSCa 2026 berakhir, sejumlah indikator layak ditagih: berapa nilai transaksi yang tercipta, berapa UMKM yang memperoleh pesanan, berapa banyak perajin yang masuk ke pasar baru, serta apakah permintaan terhadap Songket Silungkang meningkat secara berkelanjutan.

Jika indikator tersebut dapat dibuktikan, SISSCa bukan sekadar festival budaya. Ia berhasil menjadi instrumen penggerak ekonomi kreatif.

Tetapi jika setelah panggung dibongkar perajin kembali menghadapi persoalan lama—pasar terbatas, pemasaran lemah dan permintaan yang tidak stabil—maka kemeriahan festival perlu dievaluasi kembali.

Warisan budaya tidak cukup hanya diselamatkan dari kepunahan.

Ia harus mampu menghidupi orang-orang yang mempertahankannya.

SISSCa pada akhirnya bukan hanya diuji dari seberapa meriah panggungnya, tetapi dari seberapa panjang manfaat ekonominya bertahan setelah panggung itu dibongkar. (Ris1)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *