SAWAHLUNTO, TargetOnlineNews.com – Matahari pagi baru saja menampakkan sinarnya ketika suara sapu lidi dan riuh obrolan warga mulai terdengar di sudut-sudut Kelurahan Tanah Lapang, Kota Sawahlunto, Minggu, (10/8/25). Bau rumput basah bercampur aroma tanah yang baru tersapu, mengiringi langkah warga yang berbondong-bondong membawa alat kebersihan. Dari anak muda hingga orang tua, semua melebur dalam satu irama: semangat gotong royong.
Di lorong-lorong sempit, para pemuda Karang Taruna Gema Remaja Tanah Lapang tampak memotong rumput dan mengangkut tumpukan sampah. Sementara di halaman-halaman rumah, ibu-ibu sibuk menyapu dan merapikan pot bunga. Tidak ada yang memerintah, semua bergerak atas dasar kesadaran dan rasa memiliki.
Ketua Karang Taruna Gema Remaja Tanah Lapang, Ivo Bahagia, menjadi motor penggerak kegiatan ini. Dengan peluh di dahi, ia tersenyum melihat kekompakan warganya.
“Kita ingin menghidupkan kembali semangat gotong royong yang mulai luntur. Dengan goro, warga bisa saling menyapa, saling membantu, dan merasakan kebanggaan sebagai bagian dari Tanah Lapang,” ucapnya penuh semangat.
Semangat itu juga dirasakan oleh Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Tanah Lapang, Dedi Irawan, yang memandang goro sebagai simbol kolaborasi.
“Kalau hanya mengandalkan satu pihak, hasilnya tak akan maksimal. LPM, Karang Taruna, RW, dan kelurahan harus bergandengan tangan. Itulah yang hari ini kita buktikan,” tegasnya.
Lurah Tanah Lapang, Iswandi, hadir langsung memantau kegiatan dan memberi apresiasi.
“Saya salut dengan semangat anak-anak muda di Karang Taruna. Mereka menjadi motor penggerak yang mampu mengajak semua elemen ikut terlibat. Ini adalah contoh nyata bahwa kepedulian terhadap lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Dari jajaran pengurus RW, Ketua RW I, Musfarizal, mengingatkan bahwa gotong royong sebaiknya menjadi tradisi berkelanjutan.
“Jangan berhenti di hari ini saja. Kalau kita rutin bergoro, lingkungan akan selalu nyaman dan sehat. Saya harap kegiatan seperti ini jadi agenda bulanan,” katanya.
Sedangkan Ketua RW 2, Jafrialdy Acik, menegaskan bahwa gotong royong bukan sekadar persiapan acara.
“Gotong royong bukan pekerjaan musiman menjelang perayaan tertentu. Ini adalah budaya kita. Kalau semua mau ikut terlibat, kita tak hanya punya lingkungan bersih, tapi juga hubungan sosial yang kuat,” ungkapnya.
Menjelang siang, wajah-wajah letih berubah menjadi senyum puas. Jalan-jalan menjadi bersih, halaman kantor kelurahan tampak rapi, dan udara lebih segar. Namun, yang paling berharga dari hari itu bukan hanya lingkungan yang indah, melainkan rasa persaudaraan yang kembali mengakar di Tanah Lapang. (Benny)
Komentar