Sebanyak 348 peserta ambil bagian dalam ajang literasi tersebut. Tidak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, peserta juga datang dari sejumlah negara seperti Prancis, Inggris, Mesir (Universitas Al Azhar), hingga Singapura (Nanyang Technological University/NTU).
SAWAHLUNTO, Targetonlinenews.com – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sumatera Barat resmi mengumumkan pemenang Lomba Menulis Esai Tingkat Nasional 2026 yang diikuti ratusan peserta dari dalam dan luar negeri. Kompetisi ini menjadi sorotan karena menghadirkan partisipasi internasional sekaligus mengangkat sejarah Kota Sawahlunto ke panggung global.
Sebanyak 348 peserta ambil bagian dalam ajang literasi tersebut. Tidak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, peserta juga datang dari sejumlah negara seperti Prancis, Inggris, Mesir (Universitas Al Azhar), hingga Singapura (Nanyang Technological University/NTU).
Juara pertama diraih oleh Leendert Chr. Kranendong, penulis asal Amsterdam yang kini berdomisili di Prancis. Ia unggul melalui esai berjudul “Reinier de Heer: Sosok di Balik Kejayaan Pertambangan Ombilin di Awal Abad ke-20” dengan nilai tertinggi 260.
Posisi kedua ditempati Fikrul Hanif Sufyan dari Padang dengan nilai 252 lewat karya “Soeleiman Labai: Saudagar dari Silungkang Menuntut Indonesia Merdeka”.
Sementara peringkat ketiga diraih Fendy Suhartanto dari Jawa Timur dengan nilai 251 melalui esai “Priyayi Jawa di Sawahlunto: Dokter Moh. Saleh Mangundiharjo 1919–1922”.
Pada kategori juara harapan, Eci FE dari Kota Pariaman meraih posisi pertama (nilai 249) melalui esai tentang Ratna Asmara, sutradara perempuan pertama Indonesia asal Minangkabau.
Juara harapan kedua diraih Agustina Rahmawati dari Yogyakarta (nilai 247) dengan tulisan mengenai peran Adinegoro dalam transformasi sejarah Sawahlunto.
Sementara itu, pelajar MAN Barangin Sawahlunto, Yumma Afifah Putri, berhasil meraih juara harapan ketiga dengan nilai 245 melalui esai yang mengangkat tokoh Amir Jamin.
Gerakan Literasi Kolaboratif
Kepala DPK Sumatera Barat, Jumaidi, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa lomba ini merupakan bagian dari gerakan literasi kolaboratif yang melibatkan Forum Pegiat Literasi Adinegoro (FPLA) Sawahlunto serta dukungan anggota Komisi V DPRD Sumbar, Ir. Hj. Neldaswenti, M.Si.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya sekadar kompetisi, tetapi juga upaya strategis untuk memperkaya narasi sejarah nasional berbasis riset dan literasi.
“Ini adalah gerakan literasi untuk menggali dan memperkaya narasi sejarah nasional, khususnya perjalanan panjang Kota Sawahlunto sebagai warisan tambang batubara Ombilin,” ujar Jumaidi, Rabu (15/4/2026) malam.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, panitia juga akan menggelar seminar nasional yang membahas perjuangan tokoh pers Djamaluddin Adinegoro dalam kemerdekaan Republik Indonesia. Agenda tersebut dijadwalkan berlangsung pada 29 April 2026 di Saka Ombilin Heritage.
Lomba esai ini sendiri dibuka selama 1,5 bulan, mulai 1 Februari hingga 15 Maret 2026. Tema besar tentang sejarah tambang batubara Ombilin Sawahlunto dinilai menjadi daya tarik utama yang memicu tingginya partisipasi, termasuk dari luar negeri.
Penilaian Ketat dan Berbasis Fakta
Ketua Forum Pegiat Literasi Adinegoro Sawahlunto, Indra Yosef D., menjelaskan bahwa proses penilaian dilakukan secara ketat oleh tiga dewan juri, yakni dirinya, wartawan senior Muhammad Subhan, serta Yurnaldi Paduka Raja.
Penilaian mencakup sejumlah aspek penting, mulai dari orisinalitas karya, kelengkapan data dan sumber visual, hingga kepatuhan terhadap prinsip nonplagiarisme, termasuk larangan penggunaan teknologi AI secara tidak semestinya.
Selain itu, setiap esai diwajibkan memenuhi kaidah jurnalistik 5W+1H, berbasis fakta (nonfiksi), serta mengangkat peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi di Sawahlunto dalam rentang waktu 1858 hingga 2013.
“Dewan juri bekerja secara intensif selama tiga hari dua malam untuk memastikan hasil penilaian objektif dan sesuai mekanisme, hingga akhirnya menetapkan enam besar terbaik,” jelas Indra.
Ajang ini menegaskan posisi Sawahlunto tidak hanya sebagai kota warisan tambang dunia, tetapi juga sebagai ruang tumbuh literasi sejarah yang kini menarik perhatian hingga tingkat internasional. (Ril/Ris1)










Komentar