oleh

Serba Salah: Ketika Kritik Dianggap Fitnah, Klarifikasi Disebut Hujatan, dan Pujian Dinilai Sindiran

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan lagi pada isi pesan, melainkan pada cara kita memandang orang lain. Ketika prasangka lebih dominan daripada nalar, setiap kalimat akan ditafsirkan sesuai emosi, bukan berdasarkan substansinya.

 

Oleh : Riswan Idris.
Targetonlinenews.com — Di era media sosial, ruang publik semakin terbuka. Semua orang dapat berbicara, berpendapat, mengkritik, memuji, bahkan menghakimi dalam hitungan detik. Ironisnya, semakin mudah menyampaikan pendapat, semakin sulit pula menerima perbedaan pandangan.

Lahir sebuah fenomena yang akrab di tengah masyarakat: serba salah.

Ketika seseorang mengkritik sebuah kebijakan, ia dicap menyebarkan fitnah. Saat mencoba meluruskan informasi yang keliru, ia dituduh menghujat. Bahkan ketika memberikan apresiasi atas sebuah keberhasilan, tidak sedikit yang menilainya sebagai sindiran halus atau memiliki kepentingan tertentu.

Akibatnya, ruang dialog berubah menjadi arena saling curiga. Kritik kehilangan fungsinya sebagai alat koreksi. Klarifikasi tidak lagi dipandang sebagai upaya mencari kebenaran, sementara pujian pun kehilangan makna karena selalu dicurigai memiliki agenda tersembunyi.

Padahal, dalam kehidupan demokrasi maupun organisasi, kritik bukanlah musuh. Kritik yang disampaikan berdasarkan fakta merupakan vitamin bagi perubahan. Ia membantu melihat kelemahan yang mungkin luput dari perhatian. Sebaliknya, fitnah adalah tuduhan tanpa dasar yang sengaja merusak nama baik seseorang. Keduanya memiliki batas yang jelas dan tidak seharusnya disamakan.

Demikian pula dengan klarifikasi. Meluruskan informasi yang keliru merupakan bentuk tanggung jawab moral agar masyarakat memperoleh fakta yang benar. Menyebut setiap klarifikasi sebagai hujatan hanya akan mempersempit ruang diskusi yang sehat.

Begitu pula pujian. Apresiasi terhadap kerja keras seseorang atau sebuah institusi seharusnya menjadi energi positif. Sayangnya, budaya sinisme membuat pujian sering dipersepsikan sebagai sindiran atau pencitraan. Jika semua hal selalu dicurigai, maka optimisme akan sulit tumbuh.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan lagi pada isi pesan, melainkan pada cara kita memandang orang lain. Ketika prasangka lebih dominan daripada nalar, setiap kalimat akan ditafsirkan sesuai emosi, bukan berdasarkan substansinya.

Karena itu, yang perlu dibangun bukan sekadar kebebasan berbicara, tetapi juga kedewasaan dalam menerima pendapat. Kritik perlu disampaikan dengan data, bahasa yang santun, dan tujuan memperbaiki. Di sisi lain, pihak yang dikritik juga perlu membuka ruang dialog tanpa mudah merasa diserang. Klarifikasi hendaknya dijawab dengan argumentasi, bukan kemarahan. Pujian pun seyogianya diterima sebagai bentuk penghargaan selama diberikan secara tulus.

Masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang bebas dari kritik, melainkan masyarakat yang mampu membedakan kritik dengan fitnah, klarifikasi dengan hujatan, serta apresiasi dengan sindiran. Kemampuan itulah yang akan melahirkan budaya diskusi yang produktif dan saling menghormati.

Pada akhirnya, kita memang tidak mungkin menyenangkan semua orang. Akan selalu ada yang menafsirkan buruk apa pun yang kita lakukan. Namun, hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti menyampaikan kebenaran, mengoreksi kesalahan, ataupun memberikan apresiasi atas hal-hal yang layak diapresiasi.

Sebab yang dibutuhkan bangsa ini bukan semakin banyak orang yang saling mencurigai, melainkan semakin banyak warga yang berani berpikir jernih, berbicara dengan etika, dan mendengar dengan hati terbuka. Dari sanalah lahir perbedaan yang tidak memecah belah, melainkan menguatkan.(***)

Penulis: Seorang Jurnalis, Pemerhati Lingkungan, Sosial dan Kebijakan Publik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *