Prosesi Sakral di Tengah Hujan, Malewakan Gala Sako Suku Supanjang Teguhkan Marwah Adat.Tradisi adat Minangkabau kembali berdenyut kuat di Nagari Kubang, Kota Sawahlunto. Meski hujan mengguyur lapangan Desa Kubang Tangah
Sawahlunto,Targetonlinenews.com — Tradisi adat Minangkabau kembali berdenyut kuat di Nagari Kubang, Kota Sawahlunto. Meski hujan mengguyur lapangan Desa Kubang Tangah pada Ahad (28/12/25) siang, prosesi sakral malewakan gala sako Suku Supanjang tetap berlangsung khidmat. Momentum ini menjadi penanda kebangkitan adat setelah lebih dari tiga dekade vakum, tepatnya 35 tahun.
Dipimpin langsung Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Kubang, Afrizal Suki Lenggang Sati, prosesi adat tersebut mengukuhkan tujuh ninik mamak dan perangkat adat Suku Supanjang. Pengukuhan ini bukan sekadar penyerahan gelar, melainkan penegasan tanggung jawab besar dalam menjaga marwah adat, agama, serta membimbing anak kemenakan lintas generasi.
Pengukuhan Penghulu dan Perangkat Adat
Dalam rangkaian prosesi, Muharizal, SKM, MKM secara resmi dilewakan sebagai Datuk Rajo Batuah, selaku Penghulu Adat Suku Supanjang. Bersamaan dengan itu, sejumlah perangkat adat lainnya turut dikukuhkan, yakni Rice, S.H Tan Marajo sebagai Monti Adat, Rizaldi Majo Khatib sebagai Malin Adat, dan Maizar Dubalang Sati sebagai Dubalang Adat.
Tak hanya struktur adat inti, tokoh pengayom kampung juga diteguhkan. Hendri Wewindra Rajo Banso dilantik sebagai Tuo Kampuang Rumah Nan Tigo, Maisar Rangkayo Batuah sebagai Tuo Kampuang Taratak Lawik, serta Jufriwan Pandito Batuah sebagai Pandito Kampuang Taratak Lawik Suku Supanjang.
Seluruhnya dilewakan dengan filosofi adat hiduik bakarilahan, mati batungkek budi, sebagai simbol kesinambungan amanah adat.
Hasil Musyawarah Suku Sejak Idul Fitri
Ketua Panitia Malewakan Gala, Mukhlis Rangkayo Sati, menyebut kegiatan ini sebagai peristiwa bersejarah bagi Suku Supanjang. Ia menjelaskan bahwa rencana pengukuhan telah disepakati sejak musyawarah suku pada Idul Fitri 1447 Hijriah tahun 2024.
“Prosesi terakhir dilakukan sekitar 35 tahun lalu. Ini adalah hasil mufakat bersama anak kemenakan Suku Supanjang yang akhirnya dapat direalisasikan tahun ini,” ungkapnya.
Nagari Kubang sendiri merupakan nagari adat yang terdiri dari tiga desa, yakni Desa Kubang Tangah, Desa Pasa Kubang, dan Desa Kubang Utara Sikabu. Wilayah ini dihuni enam suku besar yang berakar kuat pada adat Minangkabau, bersumber dari ajaran Datuak Katamanggungan Kerajaan Pagaruyung dan turun dari Nagari Suliek Aie.
Sumpah Sakral di Bawah 30 Juz Alquran
Dalam pidato adatnya, Afrizal Suki Lenggang Sati menegaskan bahwa gelar penghulu bukanlah simbol kehormatan semata, melainkan amanah berat yang sarat konsekuensi moral dan spiritual.
“Penghulu itu disumpah di bawah 30 juz Alquran. Jika amanah dilanggar, yang datang bukan berkah, tetapi laknat Allah,” tegasnya, mengutip petuah adat Minangkabau yang menggambarkan posisi penghulu sebagai penyangga kehidupan suku.
Dukungan Pemerintah Daerah
Pemerintah Kota Sawahlunto melalui Sekretaris Daerah Rovanly Abdams menyatakan komitmen kuat dalam mendukung pelestarian adat dan budaya sebagai bagian dari visi pembangunan Era Baru Sawahlunto Maju.
Menurutnya, meski pemerintah daerah dihadapkan pada keterbatasan fiskal, komitmen menjaga adat istiadat sebagai identitas dan kekuatan sosial masyarakat tidak akan pernah berkurang.
Ritual Adat Sarat Filosofi
Prosesi malewakan gala sako berlangsung penuh simbol. Saluak atau deta penghulu dipasangkan langsung oleh Bundo Kanduang, sebagai lambang ibu adat yang melahirkan kepemimpinan. Pada prosesi tersebut, Bundo Yasmaita dipercaya memakaikan saluak kepada Penghulu Suku Supanjang.
Sementara itu, keris dan tongkat adat (tungkek) diserahkan oleh mamak suku Akmal Rangkayo Batuah, mewakili Panghulu Tuo Syamsir Dt. Rajo Batuah. Setiap simbol memiliki makna mendalam sebagai pengingat tanggung jawab penghulu terhadap adat dan anak kemenakan.
Penegasan LKAAM Sawahlunto
Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sawahlunto, Ir. H. Dahler Dt. Panghulu Sati, menjelaskan bahwa syarat menjadi panghulu haruslah laki-laki yang berasal dari garis keturunan ibu, memiliki akhlak baik, serta sanggup menjalankan amanah adat dan agama.
“Malewakan gala sako bukan sekadar seremoni. Ini adalah janji untuk menjaga marwah suku dan membimbing generasi penerus,” ujarnya.
Ia menambahkan, meski prosesi berlangsung di bawah hujan, pengukuhan ini justru menjadi simbol hidupnya kembali denyut adat yang sempat lama terdiam di Nagari Kubang.(Ris1)





















Komentar